Apa yg aneh?
Ya iyalah, dia anggota DPR. Maka otomatis dia membela tunjangan 50 juta.
Jangankan artis yang jadi anggota DPR. Saya itu punya teman, super idealis, banget. Sampai takjub lihatnya dulu. Dia hebat banget mengkritisi apapun, demo, bersuara lantang, termasuk mengkritisi tunjangan2 pejabat negara/BUMN, tunjangan rumah, tunjangan pajak, dll. Bah, bahkan tulisan-tulisan saya tidak ada apa-apanya dibanding betapa kritis dan hebat teman saya ini.
Persis dia jadi petinggi BUMN, dia mendadak berubah pikiran semua. Tunjangan itu hak kami. Enak saja elu kritisi. Itu tuh gross up, kami nih kerja berat. Lupa semua ocehannya dulu.
Nah, tidak usah jauh-jauh nyari tahu siapa teman sy ini. Karena boleh jadi kita juga akan begini saat giliran berkuasa. Konsisten atas prinsip-prinsip itu tidak mudah my friend.
Pada akhirnya, semua orang sibuk mengurus dapur masing-masing saja. Di negeri dengan penegakan hukum kacau, KKN merajalela, maka yang kaya semakin kaya. Sudahlah dikasih banyak tunjangan, eh pajak pun ditanggung negara/BUMN. Terus meroket rekeningnya.
Kamu? Kan kamu sudah dapat tunjangan. Tiap 5 tahun, dikasih amplop isi 2-3 lembar merah.
Atau dilempari kaos-akos, sembako. Jejeritan bahagia kan kamu? Cukuplah untuk membeli kualitas hidupmu. :)
*Tere Liye

