Untuk soal ini, tentu saja kami memilih untuk berada di posisi cucu Bung Hatta. Bukan sebab sentimen daerah, sakit hati ataupun kebencian dengan motif politik tertentu.
Ini lebih menyangkut soal kejujuran dalam memaparkan sejarah yang coba di manipulasi oleh kekuasaan.
Teori koperasi pertama kali digagas oleh seorang Patih di keresidenan Purwokerto bernama Raden Aria Wiraatmadja pada tahun 1896 dengan mendirikan sebuah Bank untuk petani dan pegawai negeri, agar mereka terbebas dari jeratan rentenir. Yang pada generasi berikutnya dikembangkan oleh Mohammad Hatta dalam bentuk koperasi.
Sementara kakek Prabowo baru brojol ke bumi tahun 1894 dan pusar nya juga belum kering usai di potong dukun beranak kampung kala itu. Dan pada eranya, kakek Prabowo mendirikan Bank untuk memfasilitasi rentenir-rentenir itu kembali merajalela dengan berbagai skema.
BNI 46 yang digagas bapaknya Prabowo itulah kemudian yang memprakarsai merebaknya rentenirisasi sampai ke pelosok-pelosok desa.
Sebagai menteri kebudayaan, Padli Zonk terlalu banyak mengkliping sejarah "kekek Sugiono Jepang" sehingga perspektif sejarahnya menyusut seiring dengan menyusut nya lemak tubuh yang bersangkutan. Dimana sebelum ini, lemak tubuh yang menumpuk di kepalanya itu adalah hasil pemupukan miliaran tunjangan negara selama yang bersangkutan jadi anggota MPR-DPR.
Salam Fufufafa
(Budi Akbar)

